Selasa, 24 September 2013

CONTOH PTK TIK



Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)  Pada Mata Pelajaran TI & K di  SMP N 1 Linggo Sari Baganti .



BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
Proses belajar atau proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah menghantar para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku, baik intelektual, moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga ketika siswa lulus dari sekolah mereka pintar secara teoritis tetapi mereka miskin secara aplikasi.
Tuntutan terhadap guru antara lain adalah adanya interaksi antara guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar yang dapat mengantarkan peserta didik menjadi lebih kompeten. Interaksi yang diharapkan terjadi antara guru dan peserta didik adalah interaksi yang dapat mendorong aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran guru harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar peserta didik mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali potensi dan kebenaran secara ilmiah. Dalam interaksi yang demikian guru berfungsi sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi peserta didik. Mulyasa  (2007:162) menjelaskan tugas guru sebagai fasilitator adalah: Guru sebagai fasilitator bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka.
Guru sebagai penyelenggara pendidikan di sekolah khususnya, dan penggerak proses belajar mengajar dituntut menguasai beberapa kompetensi dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menjadi harapan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia melalui jalur formal. Adanya Interaksi antara guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar yang dapat mengantarkan peserta didik menjadi lebih kompeten. Dalam hal ini sekolah sebagai gerbang terdepan dalam memperbaiki mutu pendidikan diharapkan dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisisen dari segi pengetahuan maupun keterampilan yang berkaitan dengan prosfesionalnya. Salah satu kemampuan profesional guru adalah meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Kumunikasi di sekolah saat ini merupakan keharusan sebuah sekolah untuk mengadopsi mata pelajaran tersebut. Dengan konsekwensi sekolah-sekolah yang tidak menerapkan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi akan tertinggal dari perkembangan dunia pendidikan.
Secara khusus penerapan TI dan K kepada peserta didik akan dapat mengembangkan pola pikir, manfaat dan guna bagi peserta didik pada perkembangan informasi yang berbasis teknologi.
Dalam hasil PBM untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya terletak pada peran serta guru saja, banyak faktor yang menentukan hasil pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi antara lain media pembelajaran dan kurikulum.
Perubahan kurikulum, menuntut juga perubahan dalam penggunaan metode pembelajaran. Perubahan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktek pembelajaran di dalam maupun di luar kelas (Majid, 2006:3). Model pembelajaran merupakan salah satu unsur yang ikut membantu pembelajaran di kelas dan meningkatkan aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa dapat dipengaruhi oleh pola interaksi kegiatan belajar mengajar. Salah satu pola interaksi kegiatan belajar mengajar di kelas, yaitu dengan cara melibatkan aktivitas fisik dan mental siswa secara maksimal dan mengembangkan demokrasi kelas dalam kegiatan belajar mengajar.
Mata pelajaran TI & K membutuhkan strategi atau teknik pembelajaran yang baik agar guru mampu secara kondusif mengantarkan siswa untuk memahami pelajaran TI & K dan memberi suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu dalam proses belajar mengajar TI & K siswa dituntut untuk dapat aktif selama proses belajar mengajar berlangsung. Kelemahan selama ini dalam pembelajaran TI & K adalah penyampaian materi oleh pendidik dalam kelas hanya bersifat satu arah (teacher center), sehingga siswa cenderung pasif dan iklim kelas menjadi kurang kondusif, yang berujung terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
Hasil pengamatan peneliti selama menjadi guru di SMP N 1 Linggo Sari Baganti, melihat proses pembelajaran TI dan K belum optimal, masih dijumpai guru yang hanya berfokus kepada metode ceramah karena kurangnya sarana komputer di sekolah sebagai penunjang untuk mempraktekkan langsung materi yang diterangkan, dan siswa merasa bahwa mengoperasikan komputer dan internet itu sulit dan tidak ada keberanian untuk mencoba mempraktekkannya.
Dengan keadaan seperti ini akan mempengaruhi hasil belajar yang optimal, Keadaan tersebut terjadi secara terus menerus menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa, kemalasan dan keaktifan terhadap tantangan belajar di dalam diri siswa.
Hal ini pula yang menyebabkan adanya ketidaktercapaian hasil belajar dengan jumlah pencapaian KKM kurang dari 70. Dengan latar belakang masalah di atas penulis berkeyakinan bahwa salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah melalui metode pendekatan Contextual Teaching dan Learning (CTL). Menurut Sudjana (1989 hal.30) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian“. Dengan menggunakan metode CTL, akan menjadikan peserta didik untuk lebih menguasai materi dan meningkatkan aktivitasnya serta mudah memahami materi pembelajaran.
Usaha yang dilakukan selama ini adalah menerangkan dengan menggunakan media in focus kepada siswa. Siswa menyimak, memperhatikan dan melihat langkah demi langkah pengoperasian perangkat lunak pengolah kata yang diberikan guru, tetapi pada pertemuan berikutnya disaat melanjutkan materi berikutnya hampir 50% materi yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya mereka lupa, ternyata melihat tanpa mempraktekkan itu belum membawa hasil yang di inginkan.
Mengacu pada kenyataan di atas, dalam suatu pembelajaran perlengkapan sarana dan prasarana sangat menunjang kelancaran aktivitas belajar dan sekolah telah mulai melengkapi fasilitas internet. Maka seorang guru harus mampu menciptakan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan beberapa metode pembelajaran, agar hasil yang diperoleh nanti akan optimal, seperti yang dikemukakan oleh Slameto (1995:36) “dalam proses belajar mengajar guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berfikir maupun berbuat. Penerimaan jika dengan aktivitas siswa sendiri dapat menumbuhkan keinginan untuk bertanya, mengajukan pendapat yang menimbulkan diskusi antar sesama siswa dan guru”. Oleh karena itu untuk mencapai keberhasilan pembelajaran, aktivitas belajar siswa perlu ditingkatkan.
Ada kecenderungan dewasa ini pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja mengalami, bukan menstranfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontektual. oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)  Pada Mata Pelajaran TI & K di  SMP N 1 Linggo Sari Baganti .


B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dan pengamatan dalam pelaksanaan pembelajaran dapat didentifikasikan beberapa masalah yang dihadapi dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
  1. Kurangnya motivasi siswa dalam belajar dan sikap siswa yang menganggap mata pelajaran TI dan K ini sulit
  2. Kurang tersedianya perangkat komputer dalam melakukan pembelajaran.
  3. Fokus pembelajaran hanya terpusat pada guru (teaching centered).
  4. Kurang ada partisipasi siswa yang berarti
  5. Kurangnya minat siswa dalam membaca dan menghafal
C.    Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.    Apakah penerapan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa pada mata pelajaran TI & K di  SMP N 1 Linggo Sari Baganti?
2.    Apakah penerapan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TI & K di Kelas X.2 SMP N 1 Linggo Sari Baganti?
D.    Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya ruang lingkup yang mempengaruhi proses belajar mengajar dan aktivitas belajar maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti yaitu:
1.      Penelitian Tindakan Kelas diadakan di  SMP N 1 Linggo Sari Baganti tahun ajaran 2011/2012
2.      Dalam pembelajaran TI dan K guru melakukan metode Kontektual
3.      Pokok bahasan yang diteliti : Unjuk kerja Pencarian informasi di website yang tersedia di Internet dan penggunaan layanan search engine

E.     Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian adalah :
1.      Untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran TI dan K dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontektual di SMP N 1 Linggo Sari Baganti.
2.      Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran TI dan K dengan menggunakan pendekatan kontektual di SMP N 1 Linggo Sari Baganti
F.     Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa
a.       Terjadi perubahan cara belajar siswa dari pasif menjadi aktif
b.      Untuk meningkatkan aktivitas dan kompetensi siswa
c.       Untuk meningkatkan hasil belajar
2.      Bagi guru
a.       Salah satu cara untuk dapat menjadikan siswa menguasai TI dan K secara teoritis dan Praktek
b.      Salah satu cara untuk dapat mencapai ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran TI dan K


BAB II
KAJIAN TEORI



1.      Hakekat Belajar dan Pembelajan
Belajar dan pembelajaran merupakan dua kata yang saling berkaitan satu sama lainnya. Belajar merupakan tingkah laku yang dialami seseorang secara terus menerus menuju suatu tingkah laku dan kemampuan yang diharapkan. Perubahan itu diperoleh melalui kegiatan yang dilakukan secara langsung oleh orang yang belajar tersebut, baik dibawah bimbingan orang lain seperti guru atau pendidik maupun yang dilakukan sendiri melalui pengalaman. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Slameto (1997:2):
“Belajar merupakan aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan nilai serta sikap, perubahan itu bersifat statis, konstan dan berbekas”.
Pembelajaran pada dasarnya adalah usaha yang dilakukan seseorang agar orang lain melakukan kegiatan belajar. Pembelajaran merupakan pra kondisi awal untuk terjadinya peristiwa belajar. Pembelajaran harus dilakukan melalui pendidikan dengan sengaja tidak hanya suatu yang kebetulan. Menurut H. Sahara Idris (1991:3) mengatakan bahwa:
“Pendidikan adalah yang sengaja diadakan baik langsung maupun tidak langsung untuk membantu anak dalam pengembangannya mencapai kedewasaan”.
Dan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa hakekat pendidikan nasional adalah:
“Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut tidak terlepas dari peran guru agar terjadi proses belajar mengajar yang optimal. Dalam proses pembelajaran guru harus aktif menciptakan kondisi belajar seperti, memotivasi, memfasilitasi, memberikanarahan dan bimbingan agar peserta didik dapat melakukan perubahan tingkah laku. Kondisi yang diciptakan oleh guru dapat melahirkan kreatifitas anak melalui strategi dalam pembelajaran.
2.      Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikro elektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada Teknologi Informasi dan Komunikasi
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut. Mata pelajaran ini perlu diperkenalkan,  dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan perubahan yang sangat cepat. Hasil-hasil teknologi dan informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat.
Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.
Komputer merupakan salah satu Teknologi Informasi dan Komunikasi yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan dalam memperoleh, mengolah dan menyajikan data dan informasi. Salah satu cara untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran TI dan K adalah melalui media komputer. Penggunaan media ini akan merangsang keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga menimbulkan ide-ide baru yang dapat membuat siswa berfikir kritis.
Berdasarkan pelaksaan kegiatan belajar mengajar di SMP N 1 Linggo Sari Baganti dalam mata pelajaran TI dan K dalam penerapan teori yang telah diberikan guru adalah penggunaan media komputer dalam pemantapan teorinya sehingga tercapai dengan maksimal.
3.      Tujuan Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi
Menurut Depdiknas (2003:7) tujuan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara umum yaitu agar siswa memahami alat Teknologi Informasi dan Komunikasi termasuk komputer (computer literature) dan memahami informasi (information literature). Artinya siswa mengetahui istilah-istilah yang digunakan pada Teknologi Informasi dan Komunikasi dan istilah-istilah pada komputer yang umum digunakan. Siswa juga menyadari keunggulan dan keterbatasan komputer, serta dapat mengunakan komputer secara optimal. Disamping itu memahami bagaimana dan dimana informasi dapat diperoleh, bagaimana cara mengemas/mengolah informasi dan bagaimana cara mengkomunikasikannya.
4.      Pendekatan Kontektual
a.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Untuk mengetahui bagaimana strategi pendekatan pembelajaran secara Contextual Learning and Teaching (CTL). Terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian kontektual.
Contextual Learning and Teaching (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
Pendekatan Kontextual atau Contextual Learning and Teaching (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Department of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna dalam kehidupannya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menanggapinya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubugan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinyan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupannya.
b.      Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL, Depdiknas (2002)
a.       Kerjasama
b.      Saling Menunjang
c.       Menyenangkan, tidak membosankan
d.      Belajar dengan menggairahkan
e.       Pembelajaran terintegrasi
f.       Menggunakan berbagai sumber
g.      Siswa aktif
h.      Berbagi pengetahuan dengan teman
i.        Siswa kritis guru kreatif
j.        Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain


c.       Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual
a.       Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental, siswa.
Usia siswa dan karakteristik individual lainnya serta kondisi lingkungan sosial dan budaya siswa haruslah menjadi perhatian dalam merencanakan pembelajaran
b.      Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung
Kemampuan bekerjasama dalam kelompok kecil dan besar (kelas) merupakan bentuk kerjasama yang diperlukan orang dewasa dalam tempat kerja dan konteks lainnya.
c.       Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri
Lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri memiliki tiga karakteristik umum, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan
d.      Mempertimbangan keragaman siswa
Guru harus mengajar siswa dengan berbagai keragaman suku, status sosial-ekonomi, bahasa dan kekurangan yang dimiliki siswa
e.       Memperhatikan multi intelegensi siswa
d.      Pemikiran tentang Belajar
Pendekatan kontektual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.


1)      Proses Belajar
a)      Belajar bukan hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
b)      Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
c)      Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan
d)     Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
e)      Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide
f)       Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang
2)      Transfer Belajar
a)      Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
b)      Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
c)      Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu
3)      Siswa sebagai Pembelajaran
a)      Manusia mempunyai kecendrungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecendrungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
b)      Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
c)      Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui
d)     Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4)      Pentingnya lingkungan Belajar
a)      Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dan guru akting di depan kelas, siswa menonton “ke” siswa yang akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan
b)      Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
c)      Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari ptoses penilaian yang benar
d)     Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting
e.       Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional
1)      CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pembelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif
2)      Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
3)      Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
4)      Dalam CTL kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhir adalah nilai atau angka.
5)      Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasaan diri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhir adalah nilai atau angka.
6)      Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
7)      Dalam CTL pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai pengalaman yang dialaminya, dalam pembelajaran konvensional pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain
8)      Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pelajaran mereka masing-masing. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
9)      Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
10)  Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya, sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
f.       Peran Guru dan Siswa dalam CTL
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar peserta didik, artinya guru perlu menyesuaikan gaya belajar terhadap siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak.
Sehubungan dengan hal ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru mana kala menggunakan pendekatan CTL
1.      Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya
2.      Setiap anak memiliki kecendrungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itu belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari siswa
3.      Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah membantu agar siswa mempu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
4.      Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi). Dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
g.      Azas-azas CTL
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Seringkali asas ini disebut juga komponen-komponen CTL. Selanjutnya ketujuh asas tersebut dapat dijelaskan dibawah ini:
1)      Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut


2)      Inquiri
Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
Beberapa topik dalam setiap mata pelajaran dapat dilakukan melalui proses inquiri. Secara umum proses inquiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu : (a) Merumuskan masalah (b) Mengajukan hipotesis (c) Mengumpulkan data (d) Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan (e) Membuat kesimpulan.
3)      Bertanya ( Questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keinginantahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing siswa agar dapat menemukan sendiri, karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertayaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
4)      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerjasama ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara ilmiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok, yang sudah tau memberi tau pada yang belum tau, berbagi pengalaman dengan orang lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar,  masyarakat yang saling memberi.
5)      Permodelan ( Modelling)
Yang dimaksud dengan asas permodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olah raga memberi contoh bagaimana cara melempar bola dan sebagainya.
6)      Refleksi ( Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan ke dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan mempengaruhi pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazanah pengetahuannya.


7)      Penilaian nyata (Authentic assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang  dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlakukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
h.      Penerapan Model Pembelajaran CTL
Secara umum penerapan pembelajaran kontekstual menyebabkan bermacam-macam langkah pembelajaran sebagai berikut.
1.      Pembelajaran aktif, yaitu peserta didik diaktifkan untukm engkontruksikan pengetahuan dan memecahkan masalah.
2.      Multi konteks, yaitu pembelajaran dalam konteks yang ganda (multikonteks) memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam kontek baru (terjadi transfer).
3.      Kooperasi dan diskursus (penjelasan/ceramah), yaitu peserta didik belajar dari orang lain melalui kooperasi (kerja sama), diskursus (penjelasanpenjelasan), kerja tim dan mandiri (self reflektion).
4.      Berhubungan dengan dunia nyata, yaitu pembelajaran yang menghubungkan dengan isu–isu kehidupan nyata melalui kehidupan pengalaman diluar kelas dan simulasi.
5.      Pengetahuan prasyarat/awal, yaitu pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.
6.      Ragam nilai, yaitu pengajaran yang fleksibel menyesuaikan kebutuhan dan tujuan-tujuan dari peserta didik-peserta didik yang berbeda.
7.      Kontribusi pada masyarakat, yaitu suatu cara yang dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pembelajaran atau akibat proses harus diutamakan.
8.      Penilaian otentik, yaitu proses belajar peserta didik perlu dimulai dalam kontek ganda yang bermasalah.
9.      Pemecahan masalah, yaitu berfikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan dalam hal kebendaaan, memorisasi dan pengulangan-pengulangannya.
10.  Mengalikan sendiri (self direction), yaitu peserta didik ditantang dan dimungkinkan diperbolehkan membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-alternatif diarahkan sendiri, berbagi dengan guru. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya.
11.  Memperhatikan masyarakat kelas, yaitu melihatkan kerja sama antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dikelas sangat membantu / mendukung proses pembelajaran.
Model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran yang mengarahkan guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga masyarakat.
Jika model pembelajaran CTL ini diterapkan, maka langkahnya sebagai berikut.
a)      Memotivasi siswa (memfokuskan perhatian siswa) dengan cara Tanya jawab berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Mengkonsumsikan tujuan pembelajaran dan logistic yang digunakan.
c)      Guru membagi siswa dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
d)     Guru membagikan lembar kerja siswa yang berisi masalah yang akan diselesaikan secara berkelompok.
e)      Guru memfasilitasi siswa menyampaikan logistic yang digunakan dalam memecahkan masalah.
f)       Guru membantu siswa dalam melakukan berbagi tugas dalam menyelesaikan masalah.
g)      Guru mendorong siswa dalam melakukan penyelidikan kelompoknya.
h)      Guru senantiasa menyajikan pertanyaan yang membuat siswa berfikir tentang kelayakan pemecahan masalah atau menggali apa yang dipikirkan siswa.
i)        Membantu siswa memecahkan dan menyiapkan bahan presentasi didepan kelas.
j)        Membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir.
i.        Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
Untuk lebih memahami bagaimana mengalikasikan CTL dibawah ini akan disajikan langkah-langkah pembelajaran seperti dibawah ini:
1.      Pendahuluan
a)      Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
b)      Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
-          Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa
-          Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi
-          Melalui observasi siswa ditugaskan mencatat beberapa hal yang ditemukannya
2.      Inti
a)      Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok
b)      Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan materi observasi yang telah mereka tentukan sebelumya
c)      Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai kelompok masing-masing
d)     Siswa melaporkan hasil diskusi
e)      Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan  oleh kelompok lain
3.      Penutup
a)      Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai
b)      Guru menugaskan siswa untuk membuat kesimpulan tentang pengalaman belajar mereka
5.      Aktivitas Belajar
Dalam pembelajaran siswa sangat dituntut untuk beraktivitas dan memiliki motivasi yang tinggi agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. Oleh sebab itu guru dituntut untuk memotivasi anak dalam belajar dengan menjelakan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan
Menurut Slamoto (1989:49) mengatakan bahwa “tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Aktivitas yang dilakukan bisa bermacam-macam, akan tetapi mempunyai satu tujuan akhir yang sama yaitu memperoleh segala kemampuan dasar yang dimilikinya untuk melakukan berbagai aktivitas belajar. Selanjutnya Masril (1993:9) menyatakan:
“Aktivitas sama maknanya dengan perbuatan, dalam kaitannya terhadap belajar, dapat dikemukakan sebagai suatu perbuatan roahani maupun perbuatan jasmani yang menghendaki gerakan fungsi otak individu-individu yang belajar, aktivitas tersebut menghasilkan perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan”.
Pendapat di atas menyatakan bahwa aktivitas merupakan segala perbuatan yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung baik perbuatan rohani maupun perbuatan jasmani sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa.


6.      Hasil Belajar
Hasil belajar yang diperoleh merupakan suatu prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dari diri individu.
Menurut Nana Sudjana (1990:3) mengemukakan bahwa “Penilaian siswa belajar adalah pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”.
Guru perlu mengadakan penilaian pada pembelajaran karena penilaian merupakanusaha untuk memperoleh informasi tentang peroleh hasil belajara peserta didik secara menyeluruh, baik pengetahuan, konsep, nilai, maupun keterampilan proses. Hal ini dapat digunakan oleh guru sebagai strategi mengajar yang tepat maupun dalam memperbaiki proses pembelajaran
Menurut Bloom dalam Sudjana (1992:22) membagi hasil belajar dalam tiga ranah diantaranya:
a.       Ranah Kongnitif yaitu berkenaan dengan hasil belajar untuk intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis sitetis dan evaluasi
b.      Ranah Afektif yakni berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu: penerimaan, pengenalan, reaksi/respon, penilaian, organisasi dan pemeranan/pelukisan watak
c.       Ranah Psikomotor yaitu berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek yakni: persepsi, kesiapan, respon, terpimpin, mekanisme gerakan, keterampilan kelompok dan gerakan ekspretif.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan seseorang terhadap materi yang disajikan dalam proses belajar mengajar tiga aspek yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor yang diwujudkan dalam bentuk angka atau huruf. Hasil belajar yang dicapai hendaknya mempunyai efek terhadap peningkatan hasil belajar/mempunyai sikap yang positif terhadap proses belajar dan punya sikap percaya diri.
Seorang siswa dikatakan berhasil dalam pelajaran apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dan perubahan tersebut disadarinya dan berlangsung terus menerus.
Menurut Slameto (2003:3) ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:
b.      Perubahan terjadi secara tidak sadar
c.       Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan profesional
d.      Perubahan dalam belajar bersifat permanent
e.       Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
Dalam belajar seseoran akan memperoleh perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap yang dilakukan secara sadar yang menghasilkan perubahan permanent.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN



1.      Jenis Metode Penilitian
Penilitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yaitu merupakan rangkaian riset tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah aktivitas dan hasil belajar siswa sampai masalah tersebut terpecahkan
Menurut Wardani dkk (2006:14) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan dalam kelas sendiri melalui refleksi dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja sebagai guru sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
2.      Setting Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian kelas yang dilakukan pada mata pelajaran TI dan K di SMP N 1 Linggo Sari Baganti. Subjek penelitian ini adalah siswa  sebanyak 31 orang. Yang terlibat dalam penelitian ini adalah penelitian sendiri yakni guru Teknologi Informasi dan Komunikasi pada SMP N 1 Linggo Sari Baganti, yang akan mengadakan tindakan langsung dalam keseluruhan proses pendidikan mulai dari tahap merancang, pelaksanaan sampai laporan nantinya yang akan peneliti lakukan.
3.      Persiapan Penelitian
Persiapan yang dilakukan dalam penelitian adalah instrumen-instrumen yang diperlukan selama penelitian adalah sebagai berikut:
Lembaran observasi yang terdiri dari :
a.       Aktivitas siswa dalam proses belajar
b.      Tes untuk mengetahui hasil evaluasi belajar siswa
4.      Siklus Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan suatu siklus dan berlangsung dalam beberapa siklus sampai tercapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Selanjutnya siklus yang dilakukan dapat dilihat pada skema di bawah ini



Kegiatan Siklus I
a.      Perencanaan (Planning)
Guru terlebih dahulu menyiapkan rencana pembelajaran yang berisi pokok pembahasan rencana pembelajaran, sub pokok bahasan, tujuan, materi, dan sumber
Rencana tindakan yang akan dilakukan pada siklus I adalah:
1)      Penelitian menelaah tujuan pembelajaran dan mengkaji konsep dari materi yang akan disampaikan
2)      Menyusun persiapan mengajar
3)      Menyiapkan alat peraga yang dibutuhkan
4)      Membawa siswa ke Labor Komputer untuk langsung mempraktekkan materi
5)      Menyiapkan tes akhir untuk tindakan tahap I
b.      Pelaksanaan
1)      Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun
2)      Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan dengan lembaran observasi
3)      Refleksi dilakukan untuk menganalisis hasil tindakan sebagai bahan perbaikan terhadap tindakan berikutnya
c.       Pengamatan
Pengamatan dilakukan langsung oleh peneliti untuk mengetahui kreativitas siswa dalam pembelajaran TI dan K
d.      Refleksi
Perenungan dan analisis terhadap tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya dijadikan sebagai bahan masukan untuk melakukan tindakan berikutnya. Apabila siswa masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran TI dan K dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai dengan kebutuhan dan jenis kesulitan dan sudah mencapai ketuntasan belajar lanjutkan dengan membuat laporan penelitian, dan seandainya ketuntasan belajar belum tercapai lanjutkan ke siklus III
1.      Instrument Penelitian
Instument yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1)      Pedoman  observasi untuk mencetak kegiatan yang dilakukan berdasarkan indikator aspek yang diamati yaitu aktivitas belajar siswa dalam melaksanakan tugas
2)      Bentuk tugas yang harus dikerjakan siswa dalam bentuk unjuk kerja selama pembelajaran
3)      Catatan tentang kejadian selama tindakan yang diberikan, baik yang bersifat positif maupun negatif
4)      Lembaran tes dan hasil belajar siswa
5)      Lembaran penilaian dan hasil belajar siswa
2.      Indikator Keberhasilan
1)      Sebanyak + 70% siswa dapat mencapai nilai di atas 70
2)      Rata-rata nilai siswa 70
3)      Aktivitas pembelajaran yang mendukung hasil belajar siswa  80%
3.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah partisipasi observasi,  dokumentasi alat pengumpul data, instrument penilitian adalah panduan observasi atau catatan lapangan, evaluasi, unjuk kerja, lembar tes, tes hasil belajar.
4.      Teknik Analisis Data
Data nilai hasil proses belajar diproses secara kuantitatif dengan menggunakan persentase dengan rumus:
P =
Keterangan :
P = Persentase
f  = Frekuensi
N = Jumlah Sample
Setiap kali kegiatan pembelajaran dilakukan hasilnya digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindakan berikutnya. Keseluruhan data digunakan untuk mengambil kesimpulan dari tindakan yang dilakukan dan pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar