“Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Pada Mata Pelajaran TI & K di SMP N 1 Linggo Sari Baganti ”.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses belajar atau proses
pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pencapaian
tujuan pendidikan di sekolah. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah menghantar
para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku, baik intelektual,
moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk
sosial.
Salah satu masalah yang
dihadapi oleh dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan anak
untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun
berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya
untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga ketika siswa
lulus dari sekolah mereka pintar secara teoritis tetapi mereka miskin secara
aplikasi.
Tuntutan terhadap guru
antara lain adalah adanya interaksi antara guru dan anak didik dalam proses
belajar mengajar yang dapat mengantarkan peserta didik menjadi lebih kompeten.
Interaksi yang diharapkan terjadi antara guru dan peserta didik adalah
interaksi yang dapat mendorong aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu untuk
dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran guru harus
sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar peserta didik mampu
bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali potensi dan kebenaran
secara ilmiah. Dalam interaksi yang demikian guru berfungsi sebagai fasilitator
dan mitra belajar bagi peserta didik. Mulyasa
(2007:162) menjelaskan tugas guru sebagai fasilitator adalah: Guru
sebagai fasilitator bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh
peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan,
gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara
terbuka.
Guru sebagai penyelenggara
pendidikan di sekolah khususnya, dan penggerak proses belajar mengajar dituntut
menguasai beberapa kompetensi dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menjadi
harapan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia melalui jalur formal. Adanya
Interaksi antara guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar yang dapat
mengantarkan peserta didik menjadi lebih kompeten. Dalam hal ini sekolah
sebagai gerbang terdepan dalam memperbaiki mutu pendidikan diharapkan dapat
melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisisen dari segi
pengetahuan maupun keterampilan yang berkaitan dengan prosfesionalnya. Salah
satu kemampuan profesional guru adalah meningkatkan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.
Mata pelajaran Teknologi
Informasi dan Kumunikasi di sekolah saat ini merupakan keharusan sebuah sekolah
untuk mengadopsi mata pelajaran tersebut. Dengan konsekwensi sekolah-sekolah
yang tidak menerapkan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi akan
tertinggal dari perkembangan dunia pendidikan.
Secara khusus penerapan TI dan
K kepada peserta didik akan dapat mengembangkan pola pikir, manfaat dan guna
bagi peserta didik pada perkembangan informasi yang berbasis teknologi.
Dalam hasil PBM untuk mata
pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya terletak pada peran
serta guru saja, banyak faktor yang menentukan hasil pembelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi antara lain media pembelajaran dan kurikulum.
Perubahan kurikulum,
menuntut juga perubahan dalam penggunaan metode pembelajaran. Perubahan
kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktek pembelajaran
di dalam maupun di luar kelas (Majid, 2006:3). Model pembelajaran merupakan
salah satu unsur yang ikut membantu pembelajaran di kelas dan meningkatkan
aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa dapat dipengaruhi oleh pola
interaksi kegiatan belajar mengajar. Salah satu pola interaksi kegiatan belajar
mengajar di kelas, yaitu dengan cara melibatkan aktivitas fisik dan mental
siswa secara maksimal dan mengembangkan demokrasi kelas dalam kegiatan belajar
mengajar.
Mata pelajaran TI & K
membutuhkan strategi atau teknik pembelajaran yang baik agar guru mampu secara
kondusif mengantarkan siswa untuk memahami pelajaran TI & K dan memberi
suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan. Selain itu dalam proses belajar mengajar TI & K
siswa dituntut untuk dapat aktif selama proses belajar mengajar berlangsung.
Kelemahan selama ini dalam pembelajaran TI & K adalah penyampaian materi
oleh pendidik dalam kelas hanya bersifat satu arah (teacher center),
sehingga siswa cenderung pasif dan iklim kelas menjadi kurang kondusif, yang
berujung terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
Hasil pengamatan peneliti
selama menjadi guru di SMP N 1 Linggo Sari Baganti, melihat proses pembelajaran
TI dan K belum optimal, masih dijumpai guru yang hanya berfokus kepada metode
ceramah karena kurangnya sarana komputer di sekolah sebagai penunjang untuk mempraktekkan langsung materi yang
diterangkan, dan siswa merasa bahwa mengoperasikan komputer dan internet itu sulit dan tidak ada keberanian untuk
mencoba mempraktekkannya.
Dengan keadaan seperti ini
akan mempengaruhi hasil belajar yang optimal, Keadaan tersebut terjadi
secara terus menerus menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa, kemalasan
dan keaktifan terhadap tantangan belajar di dalam diri siswa.
Hal ini pula yang menyebabkan adanya ketidaktercapaian hasil belajar
dengan jumlah pencapaian KKM kurang dari 70. Dengan latar belakang masalah di atas penulis berkeyakinan bahwa salah satu
pendekatan pembelajaran yang diduga mampu meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa adalah melalui metode pendekatan Contextual Teaching dan Learning (CTL). Menurut Sudjana (1989
hal.30) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode
dan alat serta penilaian“. Dengan menggunakan metode CTL, akan menjadikan
peserta didik untuk lebih menguasai materi dan meningkatkan aktivitasnya serta
mudah memahami materi pembelajaran.
Usaha yang dilakukan selama
ini adalah menerangkan dengan menggunakan media in focus kepada siswa. Siswa menyimak, memperhatikan dan
melihat langkah demi langkah pengoperasian perangkat lunak pengolah kata yang
diberikan guru, tetapi pada
pertemuan berikutnya disaat melanjutkan materi berikutnya hampir 50% materi
yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya mereka lupa, ternyata melihat tanpa mempraktekkan itu
belum membawa hasil yang di inginkan.
Mengacu pada kenyataan di
atas, dalam suatu pembelajaran perlengkapan sarana dan prasarana sangat
menunjang kelancaran aktivitas belajar dan sekolah telah mulai melengkapi
fasilitas internet. Maka seorang guru harus mampu menciptakan aktivitas belajar
siswa dengan menerapkan beberapa metode pembelajaran, agar hasil yang diperoleh
nanti akan optimal, seperti yang dikemukakan oleh Slameto (1995:36) “dalam
proses belajar mengajar guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berfikir
maupun berbuat. Penerimaan jika dengan aktivitas siswa sendiri dapat
menumbuhkan keinginan untuk bertanya, mengajukan pendapat yang menimbulkan
diskusi antar sesama siswa dan guru”. Oleh karena itu untuk mencapai
keberhasilan pembelajaran, aktivitas belajar siswa perlu ditingkatkan.
Ada kecenderungan dewasa ini
pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual
Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja mengalami, bukan
menstranfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam kelas kontektual,
tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih
banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan
sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontektual. oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa
Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Pada Mata Pelajaran TI & K di SMP N 1 Linggo Sari Baganti ”.
B. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dan
pengamatan dalam pelaksanaan pembelajaran dapat didentifikasikan beberapa
masalah yang dihadapi dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
- Kurangnya motivasi siswa dalam belajar dan sikap siswa yang menganggap mata pelajaran TI dan K ini sulit
- Kurang tersedianya perangkat komputer dalam melakukan pembelajaran.
- Fokus pembelajaran hanya terpusat pada guru (teaching centered).
- Kurang ada partisipasi siswa yang berarti
- Kurangnya minat siswa dalam membaca dan menghafal
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apakah penerapan Contextual Teaching and Learning dapat
meningkatkan aktivitas siswa pada mata pelajaran TI & K di SMP N 1 Linggo Sari Baganti?
2. Apakah penerapan Contextual Teaching and Learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TI & K di Kelas X.2 SMP
N 1 Linggo Sari Baganti?
D. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya ruang
lingkup yang mempengaruhi proses belajar mengajar dan aktivitas belajar maka
penulis membatasi masalah yang akan diteliti yaitu:
1. Penelitian Tindakan
Kelas diadakan di SMP N 1 Linggo Sari
Baganti tahun ajaran 2011/2012
2. Dalam pembelajaran TI
dan K guru melakukan metode Kontektual
3. Pokok bahasan yang
diteliti : Unjuk kerja Pencarian informasi di website yang tersedia di Internet
dan penggunaan layanan search engine
E. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian adalah :
1. Untuk meningkatkan
aktivitas siswa dalam pembelajaran TI dan K dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran kontektual di SMP N 1 Linggo Sari Baganti.
2. Untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran TI dan K dengan menggunakan pendekatan
kontektual di SMP N 1 Linggo Sari Baganti
F. Manfaat Penelitian
1.
Bagi siswa
a. Terjadi perubahan
cara belajar siswa dari pasif menjadi aktif
b. Untuk meningkatkan
aktivitas dan kompetensi siswa
c. Untuk meningkatkan
hasil belajar
2.
Bagi guru
a. Salah satu cara untuk
dapat menjadikan siswa menguasai TI dan K secara teoritis dan Praktek
b. Salah satu cara untuk
dapat mencapai ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran TI dan K
BAB II
KAJIAN TEORI
1. Hakekat Belajar
dan Pembelajan
Belajar dan pembelajaran
merupakan dua kata yang saling berkaitan satu sama lainnya. Belajar merupakan
tingkah laku yang dialami seseorang secara terus menerus menuju suatu tingkah
laku dan kemampuan yang diharapkan. Perubahan itu diperoleh melalui kegiatan
yang dilakukan secara langsung oleh orang yang belajar tersebut, baik dibawah
bimbingan orang lain seperti guru atau pendidik maupun yang dilakukan sendiri
melalui pengalaman. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Slameto
(1997:2):
“Belajar merupakan aktivitas mental/psikis yang
berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan nilai serta sikap, perubahan itu
bersifat statis, konstan dan berbekas”.
Pembelajaran pada dasarnya adalah
usaha yang dilakukan seseorang agar orang lain melakukan kegiatan belajar.
Pembelajaran merupakan pra kondisi awal untuk terjadinya peristiwa belajar.
Pembelajaran harus dilakukan melalui pendidikan dengan sengaja tidak hanya
suatu yang kebetulan. Menurut H. Sahara Idris (1991:3) mengatakan bahwa:
“Pendidikan adalah yang
sengaja diadakan baik langsung maupun tidak langsung untuk membantu anak dalam
pengembangannya mencapai kedewasaan”.
Dan dalam UU No.20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional, bahwa hakekat pendidikan nasional adalah:
“Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dalam merealisasikan tujuan
pendidikan nasional tersebut tidak terlepas dari peran guru agar terjadi proses
belajar mengajar yang optimal. Dalam proses pembelajaran guru harus aktif
menciptakan kondisi belajar seperti, memotivasi, memfasilitasi,
memberikanarahan dan bimbingan agar peserta didik dapat melakukan perubahan
tingkah laku. Kondisi yang diciptakan oleh guru dapat melahirkan kreatifitas
anak melalui strategi dalam pembelajaran.
2. Pembelajaran
Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi
berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material
mikro elektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek
kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada
Teknologi Informasi dan Komunikasi
Mata pelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar
mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut. Mata pelajaran ini perlu
diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai
peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri
dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk
menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar
sepanjang hayat dengan perubahan yang sangat cepat. Hasil-hasil teknologi dan
informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara
cepat.
Dengan demikian selain sebagai
bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan
untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan
peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.
Komputer merupakan salah satu
Teknologi Informasi dan Komunikasi yang banyak digunakan untuk berbagai
keperluan dalam memperoleh, mengolah dan menyajikan data dan informasi. Salah
satu cara untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran TI
dan K adalah melalui media komputer. Penggunaan media ini akan merangsang
keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga menimbulkan ide-ide
baru yang dapat membuat siswa berfikir kritis.
Berdasarkan pelaksaan kegiatan
belajar mengajar di SMP N 1 Linggo Sari Baganti dalam mata pelajaran TI dan K
dalam penerapan teori yang telah diberikan guru adalah penggunaan media
komputer dalam pemantapan teorinya sehingga tercapai dengan maksimal.
3. Tujuan
Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi
Menurut Depdiknas (2003:7)
tujuan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara umum yaitu agar siswa memahami
alat Teknologi Informasi dan Komunikasi termasuk komputer (computer literature)
dan memahami informasi (information literature). Artinya siswa mengetahui
istilah-istilah yang digunakan pada Teknologi Informasi dan Komunikasi dan
istilah-istilah pada komputer yang umum digunakan. Siswa juga menyadari
keunggulan dan keterbatasan komputer, serta dapat mengunakan komputer secara
optimal. Disamping itu memahami bagaimana dan dimana informasi dapat diperoleh,
bagaimana cara mengemas/mengolah informasi dan bagaimana cara
mengkomunikasikannya.
4. Pendekatan
Kontektual
a. Pengertian Pembelajaran
Kontekstual
Untuk mengetahui bagaimana strategi
pendekatan pembelajaran secara Contextual Learning and Teaching (CTL).
Terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian kontektual.
Contextual Learning and Teaching (CTL) merupakan proses pembelajaran yang
holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan
mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi,
sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang
dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
Pendekatan Kontextual atau Contextual
Learning and Teaching (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US
Department of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa
makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
Dengan ini siswa akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna dalam
kehidupannya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri
sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfat untuk hidupnya nanti dan
siswa akan berusaha untuk menanggapinya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubugan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinyan
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. CTL
menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan hubungan antara
materi yang dipelajari dengan situasi kehidupannya.
b. Karakteristik
Pembelajaran Berbasis CTL, Depdiknas (2002)
a. Kerjasama
b. Saling Menunjang
c. Menyenangkan, tidak
membosankan
d. Belajar dengan
menggairahkan
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai
sumber
g. Siswa aktif
h. Berbagi pengetahuan
dengan teman
i.
Siswa kritis guru kreatif
j.
Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil
karya siswa, peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
c. Prinsip-prinsip
Pembelajaran Kontekstual
a. Merencanakan
pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental, siswa.
Usia siswa dan karakteristik individual lainnya
serta kondisi lingkungan sosial dan budaya siswa haruslah menjadi perhatian
dalam merencanakan pembelajaran
b. Membentuk kelompok
belajar yang saling tergantung
Kemampuan bekerjasama dalam kelompok kecil dan
besar (kelas) merupakan bentuk kerjasama yang diperlukan orang dewasa dalam
tempat kerja dan konteks lainnya.
c. Menyediakan
lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri
Lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri
memiliki tiga karakteristik umum, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan strategi
dan motivasi berkelanjutan
d. Mempertimbangan
keragaman siswa
Guru harus mengajar siswa dengan berbagai
keragaman suku, status sosial-ekonomi, bahasa dan kekurangan yang dimiliki
siswa
e. Memperhatikan multi
intelegensi siswa
d. Pemikiran tentang
Belajar
Pendekatan kontektual mendasarkan diri
pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.
1) Proses Belajar
a) Belajar bukan hanya
sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka
sendiri.
b) Anak belajar dari
mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan
bukan diberi begitu saja oleh guru
c) Para ahli sepakat
bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan
keterampilan yang dapat diterapkan
d) Manusia mempunyai
tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
e) Siswa perlu
dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan
bergelut dengan ide-ide
f) Proses belajar dapat
mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring
dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang
2) Transfer Belajar
a) Siswa belajar dari
mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
b) Keterampilan dan
pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
c) Penting bagi siswa
tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan
keterampilan itu
3) Siswa sebagai
Pembelajaran
a) Manusia mempunyai
kecendrungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai
kecendrungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
b) Strategi belajar itu
penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk
hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
c) Peran orang dewasa
(guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui
d) Tugas guru
memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa
untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk
menerapkan strategi mereka sendiri.
4) Pentingnya
lingkungan Belajar
a) Belajar efektif itu
dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dan guru akting di
depan kelas, siswa menonton “ke” siswa yang akting bekerja dan berkarya, guru
mengarahkan
b) Pengajaran harus
berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.
Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
c) Umpan balik amat
penting bagi siswa, yang berasal dari ptoses penilaian yang benar
d) Menumbuhkan komunitas
belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting
e. Perbedaan CTL
dengan Pembelajaran Konvensional
1) CTL menempatkan siswa
sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses
pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pembelajaran.
Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek
belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif
2) Dalam pembelajaran
CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok,
berdiskusi, saling menerima dan memberi. Sedangkan dalam pembelajaran
konvensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima,
mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
3) Dalam CTL,
pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil, sedangkan dalam
pembelajaran konvensional, pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
4) Dalam CTL kemampuan
didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan
akhir adalah nilai atau angka.
5) Tujuan akhir dari proses
pembelajaran melalui CTL adalah kepuasaan diri, sedangkan dalam pembelajaran
konvensional, tujuan akhir adalah nilai atau angka.
6) Dalam CTL, tindakan
atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak
melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan
dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau
perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu
tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh
angka atau nilai dari guru.
7) Dalam CTL pengetahuan
yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai pengalaman yang
dialaminya, dalam pembelajaran konvensional pengetahuan dikonstruksi oleh orang
lain
8) Dalam pembelajaran
CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pelajaran mereka
masing-masing. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu
jalannya proses pembelajaran.
9) Dalam pembelajaran
CTL, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang
berbeda sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional
pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
10) Oleh karena tujuan
yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan
pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses,
hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain
sebagainya, sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran
biasanya hanya diukur dari tes.
f. Peran Guru dan
Siswa dalam CTL
Dalam proses pembelajaran kontekstual,
setiap guru perlu memahami tipe belajar peserta didik, artinya guru perlu
menyesuaikan gaya belajar terhadap siswa. Dalam proses pembelajaran
konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tidak
ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak.
Sehubungan dengan hal ini, terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru mana kala menggunakan
pendekatan CTL
1. Siswa dalam
pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan
pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau
“penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar
mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya
2. Setiap anak memiliki
kecendrungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran
anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itu belajar
bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan
demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting
untuk dipelajari siswa
3. Belajar bagi siswa
adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru
dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah
membantu agar siswa mempu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan
pengalaman sebelumnya.
4. Belajar bagi anak
adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses
pembentukan skema baru (akomodasi). Dengan demikian tugas guru adalah
memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses
akomodasi.
g. Azas-azas CTL
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki
7 asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan CTL. Seringkali asas ini disebut juga komponen-komponen
CTL. Selanjutnya ketujuh asas tersebut dapat dijelaskan dibawah ini:
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau
menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
Pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan
pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut
2) Inquiri
Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan
penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis. Pengetahuan bukanlah
sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan
sendiri.
Beberapa topik dalam setiap mata pelajaran dapat
dilakukan melalui proses inquiri. Secara umum proses inquiri dapat dilakukan
melalui beberapa langkah yaitu : (a) Merumuskan masalah (b) Mengajukan
hipotesis (c) Mengumpulkan data (d) Menguji hipotesis berdasarkan data yang
ditemukan (e) Membuat kesimpulan.
3) Bertanya ( Questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan
menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari
keinginantahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan
kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL guru
tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing siswa agar
dapat menemukan sendiri, karena itu peran bertanya sangat penting, sebab
melalui pertayaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk
menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
4) Masyarakat Belajar
(Learning Community)
Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan
agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.
Kerjasama ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar
secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara ilmiah. Hasil belajar
dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar
kelompok, yang sudah tau memberi tau pada yang belum tau, berbagi pengalaman
dengan orang lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling memberi.
5) Permodelan ( Modelling)
Yang dimaksud dengan asas permodelan adalah proses
pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh
setiap siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan
sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olah
raga memberi contoh bagaimana cara melempar bola dan sebagainya.
6) Refleksi ( Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang
telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali
kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui
proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan ke dalam struktur
kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang
dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan mempengaruhi
pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazanah pengetahuannya.
7) Penilaian nyata (Authentic
assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi
tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlakukan
untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman
belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik
intelektual maupun mental siswa.
h. Penerapan Model Pembelajaran CTL
Secara umum penerapan pembelajaran kontekstual
menyebabkan bermacam-macam langkah pembelajaran sebagai berikut.
1.
Pembelajaran aktif, yaitu peserta
didik diaktifkan untukm engkontruksikan pengetahuan dan memecahkan masalah.
2.
Multi konteks, yaitu pembelajaran
dalam konteks yang ganda (multikonteks) memberikan peserta didik
pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun
memecahkan masalah dalam kontek baru (terjadi transfer).
3.
Kooperasi dan diskursus
(penjelasan/ceramah), yaitu peserta didik belajar dari orang lain melalui
kooperasi (kerja sama), diskursus (penjelasanpenjelasan), kerja tim dan mandiri
(self reflektion).
4.
Berhubungan dengan dunia nyata,
yaitu pembelajaran yang menghubungkan dengan isu–isu kehidupan nyata melalui
kehidupan pengalaman diluar kelas dan simulasi.
5.
Pengetahuan prasyarat/awal, yaitu
pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan
berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.
6.
Ragam nilai, yaitu pengajaran yang
fleksibel menyesuaikan kebutuhan dan tujuan-tujuan dari peserta didik-peserta
didik yang berbeda.
7.
Kontribusi pada masyarakat, yaitu
suatu cara yang dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pembelajaran
atau akibat proses harus diutamakan.
8.
Penilaian otentik, yaitu proses belajar
peserta didik perlu dimulai dalam kontek ganda yang bermasalah.
9.
Pemecahan masalah, yaitu berfikir
tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan
dalam hal kebendaaan, memorisasi dan pengulangan-pengulangannya.
10. Mengalikan sendiri (self direction), yaitu peserta didik
ditantang dan dimungkinkan diperbolehkan membuat pilihan-pilihan, mengembangkan
alternatif-alternatif diarahkan sendiri, berbagi dengan guru. Dengan demikian
mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya.
11. Memperhatikan masyarakat kelas, yaitu melihatkan kerja sama
antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dikelas sangat membantu / mendukung
proses pembelajaran.
Model pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran yang mengarahkan guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga masyarakat.
Jika model pembelajaran CTL ini diterapkan,
maka langkahnya sebagai berikut.
a)
Memotivasi siswa (memfokuskan
perhatian siswa) dengan cara Tanya jawab berkaitan dengan masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
b)
Mengkonsumsikan tujuan
pembelajaran dan logistic yang digunakan.
c)
Guru membagi siswa dalam kelompok
yang beranggotakan 4-5 orang.
d)
Guru membagikan lembar kerja siswa
yang berisi masalah yang akan diselesaikan secara berkelompok.
e)
Guru memfasilitasi siswa
menyampaikan logistic yang digunakan dalam memecahkan masalah.
f)
Guru membantu siswa dalam
melakukan berbagi tugas dalam menyelesaikan masalah.
g)
Guru mendorong siswa dalam
melakukan penyelidikan kelompoknya.
h)
Guru senantiasa menyajikan
pertanyaan yang membuat siswa berfikir tentang kelayakan pemecahan masalah atau
menggali apa yang dipikirkan siswa.
i)
Membantu siswa memecahkan
dan menyiapkan bahan presentasi didepan kelas.
j)
Membantu siswa menganalisis
dan mengevaluasi proses berpikir.
i.
Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
Untuk lebih memahami bagaimana
mengalikasikan CTL dibawah ini akan disajikan langkah-langkah pembelajaran
seperti dibawah ini:
1. Pendahuluan
a) Guru menjelaskan
kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan
pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
b) Guru menjelaskan
prosedur pembelajaran CTL:
-
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai
dengan jumlah siswa
-
Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi
-
Melalui observasi siswa ditugaskan mencatat
beberapa hal yang ditemukannya
2. Inti
a) Siswa melakukan
observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok
b) Siswa mencatat
hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan materi observasi yang telah mereka
tentukan sebelumya
c) Siswa mendiskusikan
hasil temuan mereka sesuai kelompok masing-masing
d) Siswa melaporkan
hasil diskusi
e) Setiap kelompok
menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
kelompok lain
3. Penutup
a) Dengan bantuan guru,
siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah sesuai dengan indikator
hasil belajar yang harus dicapai
b) Guru menugaskan siswa
untuk membuat kesimpulan tentang pengalaman belajar mereka
5. Aktivitas Belajar
Dalam pembelajaran siswa
sangat dituntut untuk beraktivitas dan memiliki motivasi yang tinggi agar dapat
melaksanakan pembelajaran dengan baik. Oleh sebab itu guru dituntut untuk
memotivasi anak dalam belajar dengan menjelakan tujuan pembelajaran yang akan
diajarkan
Menurut Slamoto (1989:49)
mengatakan bahwa “tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Aktivitas yang
dilakukan bisa bermacam-macam, akan tetapi mempunyai satu tujuan akhir yang
sama yaitu memperoleh segala kemampuan dasar yang dimilikinya untuk melakukan
berbagai aktivitas belajar. Selanjutnya Masril (1993:9) menyatakan:
“Aktivitas sama maknanya dengan perbuatan, dalam
kaitannya terhadap belajar, dapat dikemukakan sebagai suatu perbuatan roahani
maupun perbuatan jasmani yang menghendaki gerakan fungsi otak individu-individu
yang belajar, aktivitas tersebut menghasilkan perubahan tingkah laku berupa
pengetahuan, sikap dan keterampilan”.
Pendapat di atas menyatakan
bahwa aktivitas merupakan segala perbuatan yang dilakukan oleh siswa selama
pembelajaran berlangsung baik perbuatan rohani maupun perbuatan jasmani
sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa.
6. Hasil Belajar
Hasil belajar yang diperoleh
merupakan suatu prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam mengikuti proses
pembelajaran, sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dari diri
individu.
Menurut Nana Sudjana (1990:3)
mengemukakan bahwa “Penilaian siswa belajar adalah pemberian nilai terhadap
hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”.
Guru perlu mengadakan
penilaian pada pembelajaran karena penilaian merupakanusaha untuk memperoleh
informasi tentang peroleh hasil belajara peserta didik secara menyeluruh, baik
pengetahuan, konsep, nilai, maupun keterampilan proses. Hal ini dapat digunakan
oleh guru sebagai strategi mengajar yang tepat maupun dalam memperbaiki proses
pembelajaran
Menurut Bloom dalam Sudjana
(1992:22) membagi hasil belajar dalam tiga ranah diantaranya:
a.
Ranah Kongnitif yaitu berkenaan dengan hasil
belajar untuk intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis sitetis dan evaluasi
b.
Ranah Afektif yakni berkenaan dengan sikap yang
terdiri dari lima aspek yaitu: penerimaan, pengenalan, reaksi/respon,
penilaian, organisasi dan pemeranan/pelukisan watak
c.
Ranah Psikomotor yaitu berkenaan dengan
keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek yakni:
persepsi, kesiapan, respon, terpimpin, mekanisme gerakan, keterampilan kelompok
dan gerakan ekspretif.
Dari pendapat-pendapat di atas
dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan
seseorang terhadap materi yang disajikan dalam proses belajar mengajar tiga
aspek yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor yang diwujudkan
dalam bentuk angka atau huruf. Hasil belajar yang dicapai hendaknya mempunyai
efek terhadap peningkatan hasil belajar/mempunyai sikap yang positif terhadap
proses belajar dan punya sikap percaya diri.
Seorang siswa dikatakan
berhasil dalam pelajaran apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku
dan perubahan tersebut disadarinya dan berlangsung terus menerus.
Menurut Slameto (2003:3)
ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:
b.
Perubahan terjadi secara tidak sadar
c.
Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan
profesional
d.
Perubahan dalam belajar bersifat permanent
e.
Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
Dalam belajar seseoran akan
memperoleh perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap yang
dilakukan secara sadar yang menghasilkan perubahan permanent.
BAB III
1. Jenis Metode
Penilitian
Penilitian ini berbentuk
penelitian tindakan kelas yaitu merupakan rangkaian riset tindakan yang
dilakukan dalam rangka memecahkan masalah aktivitas dan hasil belajar siswa
sampai masalah tersebut terpecahkan
Menurut Wardani dkk (2006:14)
penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan dalam kelas sendiri
melalui refleksi dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja sebagai guru sehingga
hasil belajar siswa menjadi meningkat.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini berbentuk
penelitian kelas yang dilakukan pada mata pelajaran TI dan K di SMP N 1 Linggo
Sari Baganti. Subjek penelitian ini adalah siswa sebanyak 31 orang. Yang terlibat dalam penelitian ini adalah
penelitian sendiri yakni guru Teknologi Informasi dan Komunikasi pada SMP N 1
Linggo Sari Baganti, yang akan mengadakan tindakan langsung dalam keseluruhan
proses pendidikan mulai dari tahap merancang, pelaksanaan sampai laporan
nantinya yang akan peneliti lakukan.
3. Persiapan
Penelitian
Persiapan yang dilakukan dalam
penelitian adalah instrumen-instrumen yang diperlukan selama penelitian adalah
sebagai berikut:
Lembaran observasi yang
terdiri dari :
a. Aktivitas siswa dalam
proses belajar
b. Tes untuk mengetahui
hasil evaluasi belajar siswa
4. Siklus Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan suatu siklus dan
berlangsung dalam beberapa siklus sampai tercapai indikator keberhasilan yang
ditetapkan. Selanjutnya siklus yang dilakukan dapat dilihat pada skema di bawah
ini
Kegiatan Siklus I
a. Perencanaan
(Planning)
Guru terlebih dahulu menyiapkan rencana
pembelajaran yang berisi pokok pembahasan rencana pembelajaran, sub pokok
bahasan, tujuan, materi, dan sumber
Rencana tindakan yang akan dilakukan pada siklus I
adalah:
1) Penelitian menelaah
tujuan pembelajaran dan mengkaji konsep dari materi yang akan disampaikan
2) Menyusun persiapan
mengajar
3) Menyiapkan alat
peraga yang dibutuhkan
4) Membawa siswa ke
Labor Komputer untuk langsung mempraktekkan materi
5) Menyiapkan tes akhir
untuk tindakan tahap I
b. Pelaksanaan
1) Melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun
2) Selama pembelajaran
berlangsung dilakukan pengamatan dengan lembaran observasi
3) Refleksi dilakukan
untuk menganalisis hasil tindakan sebagai bahan perbaikan terhadap tindakan
berikutnya
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan langsung oleh peneliti untuk
mengetahui kreativitas siswa dalam pembelajaran TI dan K
d. Refleksi
Perenungan dan analisis terhadap tindakan
yang telah dilakukan dan hasilnya dijadikan sebagai bahan masukan untuk melakukan
tindakan berikutnya. Apabila siswa masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran
TI dan K dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai dengan kebutuhan dan jenis
kesulitan dan sudah mencapai ketuntasan belajar lanjutkan dengan membuat
laporan penelitian, dan seandainya ketuntasan belajar belum tercapai lanjutkan
ke siklus III
1. Instrument
Penelitian
Instument yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah:
1) Pedoman observasi untuk mencetak kegiatan yang
dilakukan berdasarkan indikator aspek yang diamati yaitu aktivitas belajar
siswa dalam melaksanakan tugas
2) Bentuk tugas yang
harus dikerjakan siswa dalam bentuk unjuk kerja selama pembelajaran
3) Catatan tentang
kejadian selama tindakan yang diberikan, baik yang bersifat positif maupun
negatif
4) Lembaran tes dan
hasil belajar siswa
5) Lembaran penilaian
dan hasil belajar siswa
2. Indikator
Keberhasilan
1)
Sebanyak + 70% siswa dapat
mencapai nilai di atas 70
2)
Rata-rata nilai siswa 70
3)
Aktivitas pembelajaran yang
mendukung hasil belajar siswa 80%
3. Teknik Pengumpulan
Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah partisipasi observasi,
dokumentasi alat pengumpul data, instrument penilitian adalah panduan
observasi atau catatan lapangan, evaluasi, unjuk kerja, lembar tes, tes hasil
belajar.
4. Teknik Analisis
Data
Data nilai hasil proses belajar diproses secara kuantitatif dengan
menggunakan persentase dengan rumus:
P =
Keterangan :
P = Persentase
f =
Frekuensi
N = Jumlah Sample
Setiap kali kegiatan pembelajaran dilakukan
hasilnya digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindakan berikutnya.
Keseluruhan data digunakan untuk mengambil kesimpulan dari tindakan yang
dilakukan dan pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar